MODEL-MODEL
PEMBELAJARAN SAINS (IPA)
MAKALAH
“Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari
Bapak Ika Helnayadi Mansur, M.Pd, Dosen mata kulias Konsep dasar IPA di SD”
Disusun
Oleh :
1. Diki
Faaldi NIM.
16xxx
2. Lilis Cahyati
2. Lilis Cahyati
PROGRAM
STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHADI SE6TIABUDI
TAHUN
2016
BAB I
Pendahuluan
A. Latar
Belakang
Konsep
dasar teknologi pembelajaran dapat dijelaskan dari berbagai aspek, antara lain
aspek proses : meningkatkan efektifitas belajar,
meningkatkan efesiensi pembelajaran, memperluas kesempatan belajar, serta
menserasikan dengan kondisi dan kebutuhan; aspek sumber : sumber daya manusia, ajaran, sarana prasarana serta lingkungan; dan
terakhir aspek sistem: komprehensif dan sistematik.
Teknologi
pembelajaran yang merupakan bagian dari teknologi pendidikan memiliki komponen
antara lain perancangan; pengembangan; pemanfaatan; pengelolaan; penilaian dan
penelitian proses; serta sumber dan sistem belajar. Mengapa diperlukan
penguasaan teknologi pembelajaran? Jawabannya adalah karena adanya tuntutan
global, kondisi obyektif masyarakat, perkembangan kebutuhan, perkembangan
teknologi serta kondisi pendidikan.
Pembelajaran
yang berlangsung di sekolah sepantasnya menerapkan prinsip-prinsip teori
kognitif-konstruktivistik serta teori pemodelan tingkah laku agar kemandirian
aktif siswa sebagai pebelajar dapat diwujudkan. Dalam pandangan teori kognitif-konstruktivistik
mengisyaratkan bahwa:
1. sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat
yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah
kehidupan yang nyata
2. pembelajaran di sekolah seharusnya lebih
memiliki manfaat
3. munculkan rasa ingin tahu siswa, agar
memotivasi serta secara aktif membangun tampilan dalam otak siswa
4. pembelajaran harus melibatkan siswa secara mandiri
dalam melakukan eksperimen atau dalam arti luas memberi kesempatan siswa
mencoba segala sesuatu untuk melihat apa yang terjadi, memanipulasi tanda-tanda,
mengajukan pertanyaan dan menemukan sendiri jawabannya.
5. Terjadinya interaksi sosial dalam
pembelajaran memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan
intelektual siswa.
Adapun pandangan teori pemodelan tingkah laku, mengisyaratkan bahwa :
1. manusia dapat belajar dari contoh (model)
sebelum melakukan tingkah laku yang dimodelkan itu.
2. tingkah laku yang akan dilakukan dengan
baik apabila tingkah laku tersebut jelas dan tidak terlalu kompleks
3. pemberian kesempatan kepada siswa untuk
melatih keterampilan-keterampilan baru merupakan hal yang sangat penting.
(Arends, 1997)
Penguasaan
teknologi pembelajaran dan kemandirian aktif siswa dalam belajar dapat
diwujudkan dalam masyarakat sekolah atau kelas dengan alternatif menerapkan
suatu model pembelajaran tertentu dalam implementasi pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
di atas, dapat dirumuskan permasalahan dalam makalah ini dalam bentuk
pertanyaan sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran ?
2. Bagaimankah Konsep Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Student Centered Learning ?
3. Bagaimanakah cara memilih model / metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran IPA di SD ?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan
penulisan makalah ini antara lain :
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu
tugas dari mata kuliah Konsep dasar IPA di SD pada Program studi Pendidikan
Guru Sekolah Dasar Semster 1 Universitas Muhadi setiabudi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui hakikat model pembelajaran;
b. Mengetahui Konsep Pembelajaran IPA dengan Pendekatan Student Centered Learning; dan
c. Mengeahui bagaimana cara memilih model / metode pembelajaran yang tepat dalam pembelajaran IPA di SD.
D.
Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan makalah ini
antara lain :
1. Bagi Penulis
Menambah wawasan mengenai model-model
pembelajaran IPA di SD yang tentunya akan diterapkan kelak ketika terjun di
lapangan;
2. Bagi Mahasiswa
Dengan mempelajari makalah ini
diharapkan mahasiswa dapat memahami mengenai model-model pembelajaran IPA di
SD.
3. Bagi Lembaga
Menambah kasanah perbendaharaan sumber
rujukan bagi mahasiswa.
BAB II
KAJIAN
TEORI
A.
Hakikat Model Pembelajaran
Model
pembelajaran (Teaching Models) atau (Models of Teaching) memiliki makna lebih
luas dari metode, strategi/pendekatan dan prosedur. Istilah model pembelajaran
adalah pendekatan tertentu dalam pembelajaran yang tercakup dalam tujuan,
sintaks, lingkungan dan sistem manajemen (Arends, 1997:7)
Adapun
ciri-ciri dari model pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut.


Gambar 2.1
Ciri Model Pembelajaran
Sintak
dalam model pembelajaran merupakan urutan tahap-tahap yang selalu diikuti dalam
pembelajaran.
Jenis-jenis model pembelajaran menurut Richard
I. Arends antara lain: model pembelajaran langsung (Direct Instruction), model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning), model
pembelajaran berdasarkan masalah (Problem
Based Instructions) dan strategi-strategi belajar (Learning Strategies).
1. Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan
pembelajaran siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklarasi
yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Sintaks model pembelajaran langsung adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1
Sintak Pembelajaran
Fase
|
Peran Guru
|
1. menyampaikan tujuan dan mempersiapkan
siswa
|
Guru menjelaskan tujuan, informasi latar
belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
|
2. mendemonstrasikan pengetahuan atau
keterampilan
|
Guru mendemonstrasikan keterampilan atau
menyajikan informasi setahap demi setahap
|
3. membimbing pelatihan
|
Guru memberikan pelatihan awal
|
4. mengecek pemahaman dan pemberian umpan
balik
|
Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan
tugas dengan baik, memberi umpan balik
|
5. memberi kesempatan untuk pelatihan
lanjutan dan penerapan
|
Guru mempersiapkan kesempatan untuk melakukan
pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan untuk situasi
lebih kompleks dalam kehidupan sehari-hari
|
2. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan pembelajaran langsung.
Model ini dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks dan lebih
tinggi lagi. Model pembelajaran kooperatif dapat membantu guru untuk mencapai
tujuan model pembelajaran kooperatif.
Tabel 2.2
Model pembelajaran kooperatif
Fase
|
Peran Guru
|
1. menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan
memotivasi siswa untuk belajar
|
2. menyajikan informasi
|
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
3. mengorganisasikan siswa dalam
kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan
transisi secara efesien
|
4. membimbing kelompok belajar untuk
bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada
saat mereka mengerjakan tugas
|
5. Evaluasi
|
Guru mengevalusi hasil belajar tentang materi
yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
|
6. Memberikan Penghargaan
|
Guru menggunakan cara-cara yang sesuai untuk
menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
|
3. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Model ini tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi
sebanyak-banyaknya kepada siswa. Model ini dikembangkan untuk membantu siswa
mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual,
belajar berperan berbagai orang dewasa melalui pelibatan siswa dalam pengalaman
nyata atau simulasi dan menjadi self-regulated
kearner. Sintaks model pembelajaran berdasarkan
masalah
Tabel 2.3
Sintaks model
pembelajaran
Fase
|
Peran Guru
|
a. Orientasi siswa kepada masalah
|
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan segala hal yang akan dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat dalam
aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
|
b. Mengorganisasi siswa untuk belajar
|
Guru membantu siswa mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah
|
c. Membimbing penyelidikan individual
maupun kelompok
|
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
|
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan
menyiapkan karya yang sesuai, melaksanakan eksperimen atau pengamatan untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
|
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses
pemecahan masalah
|
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi
atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan
|
4. Strategi-strategi Belajar
a. Pengajaran yang baik, meliputi mengajarkan
siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berpikir, bagaimana
memotiviasi diri mereka sendiri
b. Pengajaran strategi-strategi belajar
berdasarkan dalil bahwa keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada
kemahiran untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri.
Ini menjadikan strategi-strategi belajar perlu diajarkan kepada siswa secara
terencana (by design), mulai dari
kelas-kelas rendah dan terus berlanjut sampai sekolah menengah dan pendidikan
tinggi
c. Self-regulated
learner atau pebelajar
secara mandiri dapat mengandalkan dirinya sendiri adalah pebelajar yang dapat
memerlukan empat hal penting, yaitu :
1) Secara cermat mendiagnose suatu situasi
pembelajaran tertentu
2) Memilih suatu strategi pembelajaran
tertentu untuk menyelesaikan masalah belajar tertentu yang dihadapi
3) Memonitor keefektifan strategi tersebut
4) Cukup termotivasi untuk terlibat dalam
situasi belajar tersebut sampai masalah tersebut terselesaikan
d. Produk pembelajaran adalah penting, namun
lebih penting lagi adalah proses pembelajaran itu sendiri. Alam konteks
strategi-strategi belajar, proses pembelajaran yang perlu dilatihkan kepada
siswa adalah kemampuan mendiagnose situasi pembelajaran secara akurat, memilih
suatu strategi belajar yang cocok, dan memonitor keefektifan strategi tersebut.
e. Empat jenis kategori utama strategi
belajar tersebut adalah strategi mengulang, strategi elaborasi, strategi
organisasi dan strategi metakognitif.
B.
Konsep Pembelajaran dengan Pendekatan Student Centered Learning
Perubahan
paradigma pembelajaran terjadi, karena tuntutan kondisi global (persaingan,
persyaratan kerja, perubahan orientasi) sehingga terjadi perubahan kompetensi
lulusan (perubahan kurikulum). Perubahan kurikulum juga berlatar belakang
perubahan paradigma (pengetahuan, belajar dan mengajar). Akibat perubahan
paradigma ini diharapkan ada perubahan perilaku pembelajaran, sehingga mampu
meningkatkan mutu lulusan.
Tabel 2.3
Perubahan paradigma dalam pembelajaran
1. Pengetahuan
Pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sudah jadi, yang tinggal
dipindahkan (ditransfer) dari guru ke siswa
|
Pengetahuan adalah hasil konstruksi (bentukan) atau hasil transformasi
seseorang yang belajar
|
2. Belajar
Belajar adalah menerima pengetahuan (pasif-reseptif)
|
Belajar adalah mencari dan mengkonstruksi (membentuk) pengetahuan aktif
dan spesfik caranya
|
3. Mengajar
Menyampaikan pengetahuan (bisa klasikal)
|
Berpartisipasi dengan siswa dalam membentuk pengetahuan
|
Menjalankan sebuah instruksi yang telah dirancang
|
Menjalankan berbagai strategi yang membantu siswa untuk dapat belajar
|
Sistem pembelajaran (Kebanyakan)
![]() |
Gambar 2.2
Evaluasi Program Pembelajaran
Sistem Pembelajaran KBK
![]() |
Gambar
2.4
Evaluasi
Program pembelajaran
Sistem Pembelajaran SCL
![]() |
Gambar
2.4
Sistem
Pe,belajaran SCL
Mengajar
bukan lagi bagaimana guru mengajar degan baik (teacher center), tetapi transfer
of knowledge, sehingga terbentuk pembelajaran bagaimana siswa bisa belajar
dengan baik dan berkelanjutan.
E.
Cara memilih model/metode pembelajaran
Dalam
memilih model/metode pembelajaran perlu disesuaikan program outcomesnya
(kompetensi), misalnya kompetensi pengamatan, kompetensi penyusunan hipotesis,
kompetensi pembuatan grafik, penguasaan rumus dan lain sebagainya, maka model
atau metode tentu akan berbeda. Unsur-unsur
lain selain kompetensi yang perlu diperhatikan dalam memilih model pembelajaran,
yaitu sarana/alat, materi ajar (bahan ajar), siswa. Sarana/alat bila
dihubungkan dengan bahan ajar, maka akan menjadikan bahan ajar menjadi efektif,
bahan ajar apabila dihubungkan dengan siswa, maka perlu meninjau tingkat
kesukaran/tingkat kemampuan, dan sarana/alat bila dihubungkan dengan siswa,
maka hendaknya akan mewujudkan efesiensi pembelajaran.
Apabila
beberapa model pembelajaran dihubungkan dengan tingkat memorisasi dan tingkat
keterlibatan siswa, dapat divisualisasikan sebagai berikut :
![]() |
Passive
|
||
10 %
|
Reading
|
Verbal
reciving
|
|
20%
|
Hearing Words
|
||
50%
|
Looking at Picture
Watching Video
Seeing it done on location
|
Visual reciving
|
|
70%
|
Participating in a
discussion
Giving a talk
Doing a dramatic presentation
Simulating the real Experience
|
Paticipa-ting
Doing
|
|
90%
|
Doing the real thing
|
Active
|
Gambar 2.
Met5ode Pembelajaran
Peran guru dalam paradigma baru
pembelajaran adalah sebagai fasilitator : memfasilitasi buku, modul
ajar, hand-out, journal, hasil penelitian (sebagai sumber belajar), dan waktu.
Guru sebagai motivator dapat dilakukan dengan memberi perhatian pada
siswa, memberi materi yang relevan dengan tingkat kemampuan siswa, dan dengan
situasi yang kontekstual, memberi semangat dan kepercayaan pada siswa bahwa
mereka dapat mencapai kompetensi yang diharapkan, memberi kepuasan pada siswa
terhadap pembelajaran yang dijalankan. Guru juga memberi tutorial, yaitu
menunjukkan jalan/cara/metode yang dapat membantu siswa menelusuri dan
menemukan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Guru
juga sangat perlu memberi umpan balik, yaitu memonitor dan mengoreksi
jalan pikiran/hasil kinerja siswa agar mencapai sasaran yang optimum sesuai
kemampuannya.
Khusus dalam tujuan peningkatan hasil
ujian nasional untuk kelas IX, yang notabene penilaian proses “relative
dikesampingkan” dan memfokuskan pada penilaian produk dan peningkatan kemampuan
“menghafal” dan “menyelesaian soal”, maka hendaknya guru lebih memilih model
pembelajaran yang masih tetap berpegang pada keaktifan siswa, namun mengarah
kepada tujuan utama tersebut. Alternatif model pembelajaran yang bisa dipilih
guru, seperti PBI (contoh analisis
konsep, RPP dan lembar penilaian terlampir), bisa juga guru memilih
learning strategies seperti pembuatan conceps map (contoh terlampir), main conceps atau reciprocal teaching.
Guru sebagai fasilitator memberikan
sumber belajar berupa buku ajar atau hand out, kemudian siswa diminta membaca
dan berlatih tiga keterampilan mendasar tentang pemahaman konsep, yaitu meringkas
(merangkum), mengajukan pertanyaan dan menjelaskan (mengklarifikasi) masalah.
BAB III
SIMPULAN
DAN SARAN
A. Simpulan
Penerapan model pembelajaran secara
benar mengikuti sintaknya serta sesuai karakter materi, serta karakter siswa,
maka penerapan model pembelajaran yang tentu saja didahului dengan suatu
pengembangan diharapkan mampu meningkatkan penguasaan teknologi pembelajaran,
karena kemandirian aktif siswa dalam belajar.
Pembelajaran dengan pendekatan SCL
memiliki ciri-ciri : mengutamakan tercapainya kompetensi siswa; memberikan
pengalaman belajar siswa; siswa harus dapat menunjukkan belajar/kinerjanya;
pemberian tugas menjadi pokok dalam belajar siswa/kinerja siswa; siswa
mempresentasikan penyelesaian tugasnya, dibahas bersama, dikoreksi, dan
diperbaiki; penilaian proses sama pentingnya dengan penilaian hasil.
B.
Saran
Setelah pembuatan
makalah ini diharapkan mahasiswa memiliki wawasan yang luas dan mau belajar
terutama calon guru SD yang harus sela;lu siap dalam mngajar dan mendidik peserta
didik dalam belajar
Daftar Pustaka
Arends, Richard I. 1996. Classroom Instructional and Management. The McGraw-Hill Cpmpanies,
Inc.
Bruce Joyce
& Marsha Weil. 1996. Models of
Teaching Fifth Edition. Boston
Allyn and Bacon
Mohamad Nur.
2004. Model-model Pembelajaran. FMIPA
Universitas Negeri
Surabaya
Walter R. Borg
and Meredith D. Gall. 1983. Educational
Research. New York &
London: Longman





Tidak ada komentar:
Posting Komentar